Saat kumulai menata hati dan pikiran
serta niat untuk kembali menemui gunung, untuk menyusuri semak belukar, mendaki
menembus malam, satu yang kurindukan, mengalahkan rinduku pada puncak tinggi. Aku
rindu pada kabut gunung. Kabut yang merayap seolah mampu mengalahkan malam
dingin hampir tak bercahaya.
Saat kuangkat ransel gunungku, mulai kulangkahkan kaki menuju tempat
yang bagiku menimbulkan rasa damai, semakin hangat kurasa hati walau dingin
alam membahana. Semakin tak kuasa aku menahan rindu, saat dari kaki
gunung rumahmu, aku lihat ribuan pendar cahaya langit berusaha menepis kabut.


