torehan tinta dari kumpulan yang terbuang

Minggu, 12 Desember 2010

Sinopsis M.A.C.E.T





Tiiin……..tiinnn…………….tin..tin…….
brum………………brummm…………dinnnnnnnn….dinn…….
“ Wooiiiiii……..cepetan donk…. “
“ Hei……bisa minggir ga’ seeh… “
           
Kepulan asap, suara klakson yang saling beradu dan deru kendaraan dibarengi teriakan-teriakan para pengguna jalan sudah menjadi pemandangan biasa bagiku. Antrean panjang, umpatan sumpah serapah, suara-suara mesin diselimuti polusi tebal adalah makanan pokok keseharianku.
Yach….. itulah kota Jakarta. Kota yang dikenal sebagai kota terpolusi no.1 di Indonesia dan. sebuah kota yang menjadi ikon Negara Indonesia. Kota dimana terdapat berbagai macam suku daerah yang berbeda-beda namun bisa menjadi satu dengan tujuan yang sama.
            Hari ini adalah hari senin, yang kata orang seeh hari senin adalah hari yang menyebalkan, setelah kemarin berlibur bersama keluarga, dan kini mereka berbondong-bondong menyesaki jalanan ibu kota menuju tempat kerjanya masing-masing.

“ Fiuh….tiap hari macet, percuma gua dandan rapi dari rumah, toch di jalanan macet ntar nyampe’ kantor juga jadi kucel lagi. Kalo begini terus wah gua bisa didamprat Bos tiap hari, aaahh…shit…….” Gerutuku sambil ngomel-ngomel sendirian.
“ Hei Bung….lamban kali kau, seperti kura-kura, cepatlah dikit, keburu terlambat aku.” Teriak orang dari belakangku.
“  Tak liatkah kau, jalanan macet dari depan, teriaklah kau pada orang paling depan.” Balasku  kesal
“ Yang haus… yang haus….. aqua…. aqua…. teh botol… teh botol….” Teriak seorang pedagang asongan menjajakan dagangannya.
“ Set daah…jalan macet gini, masih ada aja orang yang mencari keuntungan. Bikin tambah ruwet aja. “ gumamku
“ Pak..kasihan Pak, Pak… bagi uang buat makan Pak…” iba seorang anak kecil sambil menengadahkan tangannya.
“ Anak sekecil itu, berkelahi dengan waktu……” Teriak seorang pengamen jalanan bernyanyi dengan suara khasnya.



Yach… mungkin kemacetan ini membawa berkah tersendiri bagi orang lain.
Waktu terus bergulir, namun aku tetap saja masih di tengah-tengah kemacetan. Peluh keringat semakin deras mengucur di wajahku.

“ Tai’… di depan ada apa seeh, macet mpe kaya’ gini.”

Tiiinn….tiinnnnnn…….

“ Hooiii… yang di depan buruan, ada orang mo nglahirin neeh. “ Teriak orang yang berada jauh   di belakangku.

Meskipun sebenarnya tiap hari jalanan macet dan sudah merupakan hal yang lumrah, tapi tetap saja semua orang mengumpat dan saling teriak.
Lalu, apakah hanya dengan mengumpat tidak akan terjadi kemacetan,,apakah hanya dengan teriakan-teriakan kemacetan bisa dicegah?
Tapi semua itu sama saja, aku juga hanya bisa mengumpat, mengelap keringat dan mengeluh sendirian…..
            Perlahan-lahan tapi pasti, semua kendaraan mulai berjalan, berdesak-desakan, angin terasa sejuk menampar-nampar wajahku meskipun sebenarnya sudah bercampur dengan asap polusi dan debu.
            Yaaach… hampir satu jam aku terkurung dalam kemacetan. Akhirnya aku sampai di kantor juga dengan wajah yang kucel, pakaian kumal bau keringat…
1 jam, 2 jam hingga tak terasa sudah 8 jam aku berada di belakang meja, di depan layar komputer. Rasa cape’, kantuk dan suntuk bercampur jadi satu dalam sisa-sisa tenagaku.
Aku harus pulang, aku ingin segera merebahkan tubuhku di atas kasur empuk, aku ingin segera menyantap hidangan yang ada di meja makanku, aku ingin segera bersantai ria sambil menonton tv……
Sebuah alat teknologi yang aku sendiri juga ga’ tahu gimana cara membuatnya, menunjukkan angka 17.00. Saatnya aku pulang ke rumah, orang-orang di sekelilingku sudah bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya masing-masing kembali ke keluarganya. Akupun segera mematikan sebuah layar kaca yang tiap hari aku pandangi, yang membuat mataku pedas, leherku kaku dan kepalaku terasa mau pecah dengan berbagai tulisan-tulisan yang muncul di layar itu.

“  Sudah mau pulang ya dek…” kata seorang teman kerjaku yang memang usianya jauh lebih tua dari aku.
“ Iya nee Pak, udah cape’….” balasku sambil melemparkan sebuah senyuman yang agak berat setelah seharian aku bergumul dengan tulisan dan angka-angka.
“  Aku boleh nebeng ga’ soalnya motor lagi diservis.”
“  Boleh aja Pak, tapi argonya mahal lho, hehehe…”
“  Ah kamu bisa aja…”

Setelah semuanya selesai, kamipun bergegas pulang. Gambaran-gambaran rumah, acara-acara komedi di televisi sudah terbayang di otakku.

“  Dek, emangnya kamu ga’ ingin nikah ya…? Tanya Pak Anton, teman kerjaku yang nebeng pulang bareng aku.
“  Emangnya kenapa Pak, ko’ tiba-tiba Bapak nanya gitu.”
“ Yach cuma pengin tahu aja, padahal nikah itu enak lho, pulang kerja kopi udah disiapin, cape’ ada yang mijitin, mo makan juga tinggal ngambil.”
“ Belum mikir sampe segitu Pak, masih pengin menikmati masa-masa muda tanpa ikatan.” balasku dengan basa-basi karena sebenarnya akupun juga pengin cepat-cepat punya istri dan membina rumah tangga, apalagi di usiaku yang sudah hampir 30 tahun, tapi yach belum ketemu jodoh kali.
“ Anak muda jaman sekarang kalo disuruh nikah ada aja alesannya, padahal nikah itu wajib hukumnya, nanti kalo keburu tua terus ga’ laku gimana hayoo…”
“ Ya elah Pak, kalo ga’ laku ya diobral aja diskon gede-gedean gitu,,hehehe…”

Sudah hampir setengah jam kami melaju di atas dua roda. Sebenarnya jarak rumah Pak Anton ke kantor tidak terlalu jauh tapi yach lagi-lagi kami harus rela mengantri di jalanan seperti orang yang berdesak-desakan mau nonton sebuah konser.
Cuaca yang mendung menambah gelap jalanan, belum juga sampe rumah tiba-tiba setetes air jatuh tepat di kaca helmku dan tak lama kemudian air itu muncul membawa ribuan teman-temannya dengan tanpa basa-basi mengeroyok tubuhku dan semua orang yang ada di jalanan hingga sebagian orang harus lari tunggang langgang mencari tempat persembunyian. Tubuhkupun harus rela menerima serangan yang bertubi-tubi dari kepungan air hujan sampe basah kuyup tanpa sempat menghindar.

“ Aachh…pake lampu merah segala lagi, mana ujannya kenceng banget… “ ocehku sendirian menahan dingin karena basah kuyup oleh hujan.

Sejurus ku memandang sebuah bus yang berada di sampingku, penuh sesak dengan penumpang yang dari raut wajahnya terlihat aura capek.

“  Kenapa dek, ko’ kaya’nya heran ngelihat bus…? ”
“ Ah engga’ ko’ Pak… aku cuma ingat dulu persis kondisi seperti ini, pulang kerja malam-malam hujan macet lagi, cuman yang beda adalah waktu itu aku yang berada di dalam bus itu, saat itu aku ngelihat ke arah orang-orang yang tengah diguyur hujan dan dalam hatiku berkata kasihan orang-orang itu, mereka pasti sudah sangat capek dan ingin segera sampe rumah. Tapi sekarang ternyata diriku menjadi bagian dari orang-orang yang aku kasihani pada waktu itu, orang-orang yang kedinginan basah bermandikan air hujan… “
“ Yach… itulah kehidupan dek, dunia itu berputar,, yakinlah bahwa pada saatnya nanti kamu bisa menjadi bagian dari orang-orang yang dengan santainya duduk di jok empuk sambil dengerin lagu tanpa kena air hujan sedikitpun, bahkan bisa tidur di tengah-tengah kemacetan seperti ini… “

Setelah satu jam lebih kami berkerumun dalam kemacetan dan banjir, akhirnya kami sampai di rumah Pak Anton.

“ Mampir dulu dek, ganti pakaian yang kering sekalian ngopi-ngopi dulu… “ Tawaran Pak Anton membuatku sedikit tergoda.
“ Makasih Pak,, lain waktu aja, saya udah kangen guling sama bantal di rumah, lagian hujannya juga sudah reda ko’… “ Tolakku dengan halus karena aku tahu bahwa dia juga pengin istirahat.
“ Ya sudah tidak apa-apa, terima kasih ya dek,, hati-hati di jalan, sampai rumah langsung mandi pake air hangat biar ga’ sakit… “
“ Iya Pak, terima kasih…”  

Aku kembali melanjutkan perjalanan seorang diri. Dalam otakku sudah terbayang kasur empuk, bantal dan guling yang sudah menantikan kedatanganku.
Meskipun esok hari aku akan menjalani rutinitas yang sama, kemacetan yang serupa dan kebiasaan-kebiasaan yang terulang,, tapi aku tidak mau memikirkan semua itu, esok hari jalani esok hari, sekarang tujuan utamaku adalah sampe rumah dan tidur…………………….
           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...