Tiiin……..tiinnn…………….tin..tin…….
brum………………brummm…………dinnnnnnnn….dinn…….
“ Wooiiiiii……..cepetan donk…. “
“ Hei……bisa minggir ga’ seeh… “
Kepulan asap, suara klakson yang saling beradu dan deru kendaraan dibarengi teriakan-teriakan para pengguna jalan sudah menjadi pemandangan biasa bagiku. Antrean panjang, umpatan sumpah serapah, suara-suara mesin diselimuti polusi tebal adalah makanan pokok keseharianku.
Yach….. itulah kota Jakarta. Kota yang dikenal sebagai kota terpolusi no.1 di Indonesia dan. sebuah kota yang menjadi ikon Negara Indonesia. Kota dimana terdapat berbagai macam suku daerah yang berbeda-beda namun bisa menjadi satu dengan tujuan yang sama.
Hari ini adalah hari senin, yang kata orang seeh hari senin adalah hari yang menyebalkan, setelah kemarin berlibur bersama keluarga, dan kini mereka berbondong-bondong menyesaki jalanan ibu kota menuju tempat kerjanya masing-masing.
“ Fiuh….tiap hari macet, percuma gua dandan rapi dari rumah, toch di jalanan macet ntar nyampe’ kantor juga jadi kucel lagi. Kalo begini terus wah gua bisa didamprat Bos tiap hari, aaahh…shit…….” Gerutuku sambil ngomel-ngomel sendirian.
“ Hei Bung….lamban kali kau, seperti kura-kura, cepatlah dikit, keburu terlambat aku.” Teriak orang dari belakangku.
“ Tak liatkah kau, jalanan macet dari depan, teriaklah kau pada orang paling depan.” Balasku kesal
“ Yang haus… yang haus….. aqua…. aqua…. teh botol… teh botol….” Teriak seorang pedagang asongan menjajakan dagangannya.
“ Set daah…jalan macet gini, masih ada aja orang yang mencari keuntungan. Bikin tambah ruwet aja. “ gumamku
“ Pak..kasihan Pak, Pak… bagi uang buat makan Pak…” iba seorang anak kecil sambil menengadahkan tangannya.
“ Anak sekecil itu, berkelahi dengan waktu……” Teriak seorang pengamen jalanan bernyanyi dengan suara khasnya.